Tuesday, 26 May 2009

Dampak Krisis Global, Bunuh Diri Marak di Korsel

Selasa, 28 Oktober 2008 | 13:21 WIB

SEOUL, SELASA — Situasi ekonomi yang suram dituding sebagai penyebab meningkatnya gelombang bunuh diri di Korea Selatan, situasi yang mengulang dampak krisis finansial Asia pada 1997-1998 di negara itu.

Para pakar kesehatan di Negeri Ginseng itu menyatakan, sakit mental juga telah merebak di tengah terjungkalnya pasar saham belakangan ini. Kantor berita Yonhap melaporkan, seorang pria berusia 47 tahun di Gwangju, barat daya Korsel, melakukan bunuh diri pada pekan lalu setelah menderita kerugian besar dalam investasinya di pasar saham.

Ia ditemukan tergantung di kamar mandi apartemennya pada Jumat lalu, kata Yonhap mengutip laporan polisi setempat. Pria itu menanam modal di pasar saham dengan nilai 370 juta won atau sekitar Rp 3 miliar, dua tahun lalu. Namun, pria itu mengalami kerugian dua pertiganya dari modalnya akibat jatuhnya pasar saham.

"Mereka yang mengalami depresi cenderung menyalahkan diri sendiri bila segala hal menjadi kacau. Mereka menyiksa diri akibat kehancuran pasar saham sekalipun krisis itu merupakan krisis global," kata pakar.

Bertindak atas petunjuk keluarganya, polisi menemukan pria itu menulis surat pemberitahuan bunuh diri di mobilnya yang diparkir di tempat sepi, dengan seutas kabel melingkar di lehernya. Istrinya dapat diselamatkan setelah minum pil tidur di rumahnya.

Pada 9 Oktober, Korea Times melaporkan seorang karyawan perusahaan jasa keamanan berusia 32 tahun ditemukan gantung diri di sebuah penginapan di Seoul. Pria itu juga diduga bunuh diri terkait tumbangnya pasar saham.

"Suami saya terus berkata dirinya bersalah di depan keluarga dan ingin mati saja," kata istrinya kepada polisi.

Pada hari yang sama, polisi berhasil menggagalkan upaya bunuh diri sepasang suami-istri berusia 60 tahunan, tulis surat kabar itu. Mereka meminjam 100 juta won dari sebuah perusahaan sekuritas pada Oktober lalu dan menanamkannya semua di pasar modal dan modal mereka amblas seketika.

"Sekitar 20 persen pasien saya mengeluhkan kepedihan yang mendalam akibat kejatuhan pasar saham. Itulah alasannya mengapa mereka mengalami depresi," kata Ha Jee-Hyun, seorang psikiater di RS Universitas Konkuk.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pekan lalu bahwa krisis ekonomi global kemungkinan akan menyebabkan naiknya angka bunuh diri dan sakit jiwa, dengan banyak orang sedang berjuang mengatasi kerugian akibat disitanya rumah mereka atau lenyapnya penghasilan mereka.

0 comments: