Tuesday, 26 May 2009

Diguncang Krisis Global, Ekonomi Asia Dinamis

Selasa, 18 November 2008 | 20:44 WIB

SEOUL, SELASA - Asia akan terkena dampak krisis global dengan ditandai oleh lesunya permintaan ekspor. Namun, Asia tetap menjadi wilayah yang sangat dinamis di dunia dari segi ekonomi.

"Pertumbuhan ekonomi akan turun tetapi Asia akan tetap mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia," kata Jong-Hwa Lee, kepala kantor urusan integrasi ekonomi regional Bank Pembangunan Asia (ADB). Lee tak menyebutkan perkiraan pertumbuhan ekonomi setiap negara pada tahun 2009.

Lee menjelaskan Asia kecuali Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 9 persen tahun lalu. Menurut Lee, terdapat ekspekstasi pertumbuhan ekonomi di Asia sebesar 7,5 persen pada tahun ini.

"Setiap orang sekarang memahami permintaan ekspor akan turun secara berkesinambungan tidak hanya di Korea Selatan tetapi juga di China dan India," jelas Lee. "Pertanyaannya adalah bagaimana memperkuat permintaan produksi dalam negeri dan inilah yang disebut tantangan sebenarnya."

Lee menjelaskan pemerintah negara-negara Asia dapat mengambil beberapa langkah seperti pemotongan tingkat suku bunga dan pajak serta peningkatan cadangan devisa dan anggaran pemerintah. "Upaya itu dapat meningkatkan permintaan produk dalam negeri serta kemungkinan menghindari dampak substansial dari kelesuan ekonomi global."

China, Jepang serta Korea Selatan telah mengumumkan serangkaian langkah stimulus ekonomi. Beijing sendiri telah mengumumkan paket stimulus senilai 586 miliar dollar AS.

Krisis Keuangan Global Kegagalan Sistem Ekonomi Kapitalis

Rabu, 15 Oktober 2008 | 21:20 WIB

JAKARTA, RABU - Calon Presiden Sutiyoso menilai terjadi krisis keuangan global saat ini merupakan bukti gagalnya sistem ekonomi kapitalis. Indonesia yang merupakan bagian dari ekonomi kapitalis, harus mewaspadai dampak dari krisis global ini. Sutiyoso yakin, bila krisis ini berkepanjangan, pasti membawa dampak negatif bagi perekonomian rakyat Indonesia.

"Fundamental ekonomi Indonesia sangat rapuh. Hal ini bisa terjadi karena beberapa penyebab. Pertama, bentuknya bagaikan piramida sosial. Di puncaknya sekelompok kecil pengusaha besar, pengusaha asing dan BUMN yang menguasai sekitar 90% ekonomi nasional. Sedangkan pengusaha mikro, kecil menengah dan koperasi (ekonomi kerakyatan) yang jumlahnya sangat banyak, hanya menguasai sangat kecil ekonomi nasional. Kedua, pembangunan makro ekonomi kita tidak memberikan dampak positif terhadap pembangunan mikro ekonomi," ujar Sutiyoso menanggapi terjadinya gejolak keuangan saat ini.

Menurut Sutiyoso, seharusnya ekonomi Indonesia, berazaskan keadilan yang berbentuk belah ketupat. "Di tengah yang besar yaitu pengusaha menengah yang banyak dan kuat. Sekarang ini, ekonomi kita hanya ditopang oleh sekelompok kecil pengusaha besar, pengusaha asing, dan BUMN. Padahal, pengusaha asing tidak bisa diharapkan untuk menopang ekonomi Indonesia, karena investasi mereka pada umumnya bersifat padat modal, padat teknologi, dan jangka pendek. Investasinya kurang menyerap tenaga kerja dan setiap saat mereka bisa membawa ke luar dananya, sebab kita menganut sistem devisa bebas," ujar Bang Yos, sapaan akrab Sutiyoso.

Kalau krisis keuangan global berlanjut, kata Bang Yos, maka pengusaha besar dan BUMN tidak bisa bertahan, apalagi kalau ditinggal pergi para investor asing. Mereka pasti kolaps, dan akan menimbulkan efek domino kepada anggaran pendapatan dan belanja pemerintah, karena mereka menarik modalnya dan tidak bisa membayar pajak.

Akibatnya, lanjut Bang Yos, pemerintah tidak bisa melakukan pembangunan, disebabkan oleh kecilnya penerimaan negara. Maka akan terjadi penurunan investasi dan kelesuan ekonomi, PHK, kemiskinan dan pengangguran akan bertambah banyak. Dengan demikian, akan menganggu seluruh sendi perekonomian, termasuk perekonomian rakyat Indonesia.

"Krisis ekonomi global saat ini juga pasti memukul UKM dan ekonomi kerakyatan. Hal ini Mengingat sebagian produk masyarakat mensuplai industri besar dan sebagian lagi produknya dijual di pasar internasional, akan mengalami pukulan karena krisis tersebut melemahkan daya beli masyarakat dunia (Amerika Serikat, Eropa dan negara industri lainnya)," jelasnya.

Selain itu, para petani tidak bisa mendapatkan manfaat dari krisis ekonomi seperti yang terjadi ditahun 1997/1998, sebab hasil pertanian mereka tidak bisa dibeli oleh masyarakat Barat, kalaupun mereka membeli tidak bisa mahal sebab daya beli mereka merosot akibat dilanda krisis ekonomi tersebut.

Dampak Krisis Global, Bunuh Diri Marak di Korsel

Selasa, 28 Oktober 2008 | 13:21 WIB

SEOUL, SELASA — Situasi ekonomi yang suram dituding sebagai penyebab meningkatnya gelombang bunuh diri di Korea Selatan, situasi yang mengulang dampak krisis finansial Asia pada 1997-1998 di negara itu.

Para pakar kesehatan di Negeri Ginseng itu menyatakan, sakit mental juga telah merebak di tengah terjungkalnya pasar saham belakangan ini. Kantor berita Yonhap melaporkan, seorang pria berusia 47 tahun di Gwangju, barat daya Korsel, melakukan bunuh diri pada pekan lalu setelah menderita kerugian besar dalam investasinya di pasar saham.

Ia ditemukan tergantung di kamar mandi apartemennya pada Jumat lalu, kata Yonhap mengutip laporan polisi setempat. Pria itu menanam modal di pasar saham dengan nilai 370 juta won atau sekitar Rp 3 miliar, dua tahun lalu. Namun, pria itu mengalami kerugian dua pertiganya dari modalnya akibat jatuhnya pasar saham.

"Mereka yang mengalami depresi cenderung menyalahkan diri sendiri bila segala hal menjadi kacau. Mereka menyiksa diri akibat kehancuran pasar saham sekalipun krisis itu merupakan krisis global," kata pakar.

Bertindak atas petunjuk keluarganya, polisi menemukan pria itu menulis surat pemberitahuan bunuh diri di mobilnya yang diparkir di tempat sepi, dengan seutas kabel melingkar di lehernya. Istrinya dapat diselamatkan setelah minum pil tidur di rumahnya.

Pada 9 Oktober, Korea Times melaporkan seorang karyawan perusahaan jasa keamanan berusia 32 tahun ditemukan gantung diri di sebuah penginapan di Seoul. Pria itu juga diduga bunuh diri terkait tumbangnya pasar saham.

"Suami saya terus berkata dirinya bersalah di depan keluarga dan ingin mati saja," kata istrinya kepada polisi.

Pada hari yang sama, polisi berhasil menggagalkan upaya bunuh diri sepasang suami-istri berusia 60 tahunan, tulis surat kabar itu. Mereka meminjam 100 juta won dari sebuah perusahaan sekuritas pada Oktober lalu dan menanamkannya semua di pasar modal dan modal mereka amblas seketika.

"Sekitar 20 persen pasien saya mengeluhkan kepedihan yang mendalam akibat kejatuhan pasar saham. Itulah alasannya mengapa mereka mengalami depresi," kata Ha Jee-Hyun, seorang psikiater di RS Universitas Konkuk.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pekan lalu bahwa krisis ekonomi global kemungkinan akan menyebabkan naiknya angka bunuh diri dan sakit jiwa, dengan banyak orang sedang berjuang mengatasi kerugian akibat disitanya rumah mereka atau lenyapnya penghasilan mereka.

Krisis Global adalah Kesempatan Emas

Senin, 12 Januari 2009 | 15:13 WIB

KUALA LUMPUR, SENIN — Krisis perekonomian global yang melanda dunia adalah kesempatan emas bagi sektor perbankan syariah untuk menunjukkan diri sebagai alternatif dari kapitalisme. "Waktunya untuk membuktikan kepada dunia," kata Wakil Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Senin (12/1), saat berbicara dalam konferensi perbankan syariah di Kuala Lumpur.

Perbankan syariah yang mengalami booming 1 triliun dollar AS melarang tindakan spekulasi dalam bisnisnya. Terbukti, dengan cara ini perbankan syariah relatif tanpa cidera saat berhadapan dengan kredit macet.

Di samping itu, transaksi dalam perbankan syariah harus didasari oleh jaminan aset nyata. Sistem perbankan syariah juga melarang investasi yang terkait dengan perjudian, alkohol, dan pornografi.

Krisis Global Berdampak pada Kesehatan

Sabtu, 15 November 2008 | 05:34 WIB

JAKARTA, SABTU - Situasi krisis ekonomi global akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat secara nasional, regional maupun global. Ini terutama menyangkut masalah dana sehingga perlu ditangani secara serius.

”Tugas kita adalah bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa masalah kesehatan harus diperhatikan dan menjadi prioritas,” kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie pada diskusi ”Dampak Krisis Ekonomi Global terhadap Kesehatan Masyarakat” di kantor Menko Kesra di Jakarta, Jumat (14/11).

Pada diskusi yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional Ke-44, 12 November 2008 ini, terungkap bahwa krisis ekonomi global akan berdampak ke berbagai sektor, termasuk perubahan gaya hidup karena akan terjadi rasionalisasi tenaga kerja, biaya produksi, kenaikan gaji karyawan, bonus yang ditunda, dan ekspor pun melamban.

Staf pengajar Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prastuti Soewondo mengatakan, 70-80 persen penghasilan keluarga digunakan untuk makan. Maka jika daya beli masyarakat menurun, tentu akan muncul ancaman rawan gizi karena masyarakat akan cenderung membeli makanan yang kurang esensi gizinya. Tingkat kematian pun akan naik, termasuk penderita gangguan jiwa karena stres pun meningkat. (LOK)

Krisis Global, Awas Gangguan Jiwa!

Sabtu, 11 Oktober 2008 | 09:47 WIB

KRISIS keuangan global tampaknya akan meningkatkan gangguan kesehatan mental dan bahkan bunuh diri, sementara orang berjuang menghadapi kemiskinan dan pengangguran, demikian peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ratusan juta orang di seluruh dunia sudah terkena pengaruh gangguan mental seperti depresi dan gangguan dua kutub dan kemerosotan pasar saat ini dapat menambah parah rasa kecewa di kalangan orang yang rentan terhadap penyakit semacam itu.

WHO juga menyebutkan, dampaknya dapat terlihat pada orang-orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan akses perawatan yang terbatas.
"Kita tak perlu terkejut atau memandang rendah guncangan itu dan konsekuensi yang mungkin muncul akibat krisis keuangan saat ini. Sebagaimana kita saksikan jurang pemisah menganga lebar dalam perawatan orang yang sangat membutuhkan," kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan pada pertemuan para ahli kesehatan mental.

Kemiskinan dan tekanan yang berkaitan dengannya termasuk kekerasan, pengucilan sosial, dan "ketidakamanan terus-menerus" berkaitan dengan kemunculan gangguan mental, katanya. "Tak perlu terkejut bahwa kita terus menyaksikan gangguan, bunuh diri, dan tekanan lebih jauh," kata Chan.

Chan mencela "betapa besar kurangnya perawatan" bagi sebagian pasien kesehatan mental, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tempat tinggal dua dari empat penderita. Pemerintah harus menjadikan kesehatan mental sebagai bagian penting dari perawatan kesehatan primer, katanya.

Benedetto Saraceno, Direktur Departemen Penyelewengan Bahan Kimia dan Kesehatan Mental WHO, mengatakan gangguan kesehatan mental mempengaruhi satu dari empat orang pada satu titik kehidupan mereka.

Gangguan syaraf dan mental seringkali bersifat kronis dan melumpuhkan, katanya. Hampir satu juta orang melakukan bunuh diri di seluruh dunia setiap tahun, banyak di antara mereka pemuda dewasa.

Ketika ditanya mengenai krisis keuangan, Saraceno mengatakan, "Kemiskinan dapat menjadi akibat dari kejadian semamcam itu, utang, kekecewaan dan kehilangan kendali yang mungkin mencapai klas bawah dan menengah. Bahkan orang miskin dapat terpengaruh oleh krisis ini."

"Ada bukti jelas bahwa bunuh diri berhubungan dengan bencana keuangan. Saya bukan berbicara mengenai jutawan yang melompat dari jendela tapi tentang orang miskin," katanya.

Krisis global diperkirakan dapat memengaruhi "kestabilan masyarakat dan keluarga", kata Saraceno. WHO meluncurkan satu program pada pekan kedua Oktober, acara tahunan Hari Kesehatan Mental Dunia, yang ditujukan untuk meningkatkan dana dan layanan bagi penderita penyakit mental selama enam tahun ke depan.

Lebih dari 75 persen orang yang menderita gangguan mental di dunia tak mendapat perawatan atau pengobatan, dan banyak orang ternoda dan terabaikan dan jadi korban pelecehan, kata badan dunia itu.

Secara global, WHO menyatakan kebanyakan negara mengeluarkan kurang dari 2 persen dari anggaran kesehatan nasional mereka untuk kesehatan mental.

"Saya yakin bahwa sekalipun di negara berpenghasilan menengah yang terkena krisis ekonomi, itu berarti kekurangan uang dan akses ke perawatan," kata Saraceno.